Senin, 19 Januari 2009

Scratches from seminar..

Dalam seminar Regional Integration in East and South East Asia, kita bisa menyimpulkan bahwa ASEAN melihat Asia Timur sebagai partner penting dan tampak sedang berusaha mengembangkan integrasi lebih dalam dengan kawasan tersebut dalam kerangka APT (ASEAN Plus Three) dan EAS (East Asia Summit).

Kemunculan APT dan EAS sendiri bermula dari 1997 ketika Asia terkena krisis finansial global. Meskipun kita bisa menengok lebih ke belakang asal muasal hubungan Asia Tenggara dan Asia Timur sejak tahun 1980 an ketika Mahathir Muhammad mencetuskan apa yang disebut Look East Policy yang kemudian diwujudkan dalam inisiatif berdirinya EAEC (East Asia Economic Caucus) pada tahun 1990.[1] Dalam teori yang kini dikenal sebagai flying geese model, Mahathir berpikir bahwa agar Malaysia dan Asia Tenggara saat itu dapat berkembang, dibutuhkan suatu negara yang dapat berperan sebagai pemimpin yang diibaratkan goose terdepan. Menurutnya, angsa yang terbang paling depan adalah angsa yang paling kuat karena selain akan menghadapi terpaan angin paling kencang, angsa terdepan juga dapat melindungi angsa-angsa dibelakangnya. Dan Jepang dirasa memenuhi kualifikasi ini.[2]

Hubungan kedua kawasan dilembagakan pada pertemuan puncak ASEAN Plus Three di Manila tahun 1999 melalui Join Statement on East Asia Cooperation. Untuk mempelajari lebih jauh mengenai prosek hubungan kedua kawasan, dibentuklah EAVG (East Asia Vision Group) yang dimodifikasi menjadi EASG (East Asia Study Group). Pada Pertemuan Puncak ASEAN Plus Three ke-11 November 2007, diadopsi Second Join Statement on East Asia Cooperation dan ASEAN Plus Three Cooperation Work Plan 2007-2017 yang juga digunakan untuk menopang pembentukan ASEAN Community pada 2015.[3]

East Asia Summit sendiri terdiri dari ASEAN Plus Three ditambah India, Australia, dan Selandia Baru. Regionalisme ini bekerja pada 5 area utama, yaitu energi, finansial, pendidikan, Avian Influenza, dan bencana alam.

Dari penjelasan semua pembicara, terdapat beberapa isu dalam integrasi kedua kawasan.

Dalam paper Pak Mochtar, kita bisa melihat bahwa Asia Tenggara merupakan kawasan yang paling aktif membentuk regionalisme dan kerjasama dengan kawasan lain. Seperti ASEAN, SAARC, GMS, SASEC, BIMSTEC, dll. ASEAN sendiri masih membentuk regionalisme lain seperti EAS, APT, ASEM, APEC. Tujuannya adalah menguatkan pembentukan ASEAN Community 2015. Lebih spesifik, mencapai AEC (ASEAN Economic Community) dengan karakteristik a) a single market and production base, b) a highly competitive economic region, c) a region of equitable economic development, and d) a region fully integrated into global economy.[4] Namun yang terjadi adalah dengan banyaknya regonalisme yang dilakukan, GDP ASEAN hanya 2% GDP dunia. Sementara itu GDP Asia Timur 20% GDP dunia. Lebih ironis lagi, perdagangan antar negara anggota ASEAN tetap terbilang rendah. Selain itu, dari data investasi asing, FDI ke China selalu jauh lebih tinggi daripada FDI ke ASEAN. Pada tahun 2005, FDI ke China duakali lipat FDI ke ASEAN.

Kenyataan ini memunculkan beberapa pertanyaan.

Pertama, dengan melihat perbandingan GDP ASEAN (yang merupakan sebuah regionalisme dan aktif membentuk regionalisme lain) hanya 2% GDP dunia, sementara GDP Asia Timur (yang nota bene tidak membentuk regionalisme dan melakukan kerjasama dengan kawasan lain dalam kapasitasnya sebagai negara) mencapai 20% GDP dunia, lalu seberapa signifikan kah peran regionalisme itu sendiri? Terlebih perdagangan dalam ASEAN sendiri tegolong rendah. Selain itu, meskipun telah ada kerangka kerjasama dibawah ASEAN, sebagian besar negara anggota ASEAN sendiri bekerjasama dengan negara di kawasan lain dan bahkan dengan negara di kawasannya, dalam kerangka kerjasama bilateral.

Selain permasalahan signifikansi regionalisme, data ini menunjukkan pada kita bahwa integrasi dengan Asia Timur yang seharusnya menjadi cara untuk memperkuat pembetukan ASEAN Community 2015, ternyata justru menggerogoti tujuan itu sendiri. ASEAN Community yang menjanjikan penyempitan gap antar negara anggota ASEAN dan kesejahteraan negara anggota, ternyata masih sama jauhnya dari ketika kerjasama kedua kawasan belum erat. Integrasi ini, juga integrasi dengan kawasan lain, juga justru menggerogoti ASEAN sebagai organisasi.

Kedua, dengan perbandingan FDI ke China dan ASEAN yang juga begitu tajam dan tidak seimbang, kita patut mempertanyakan mengapa ASEAN yang menjadi driving force justru mengalami ketertinggalan? Apa yang salah dengan kerjasama kedua kawasan? Apakah kalau begitu kerjasama yang telah ada masih akan dilanjutkan tanpa peninjauan?

Dua hal yang dapat disimpulkan dari penjelasan pembicara adalah bahwa ASEAN selama ini hanya berperan sebagai regulator. Hampir semua negara-negara di Asia Tenggara memiliki produk yang sama sehingga yang terjadi adalah persaingan ketat untuk memasarkan produk yang sama di pasaran internasional. Ketika suatu negara berhasil mengembangkan produk tersebut dan memperdagangkannya di pasaran, negara lain dengan produk sama akan dirugikan. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu sebab ketimpangan GDP satu negara dengan negara lain. Untuk mengatur persaingan ini, maka dibentuklah ASEAN, gunanya sebagai wadah agar persaingan antar negara-negara ASEAN untuk berdagang dengan negara kawasan lain lebih sehat dan tidak begitu mematikan. Namun karena banyak negara merasa keuntungannya lebih berkurang jika bekerjasama dalam kerangka ASEAN, banyak dari mereka yang tetap melakukan kerjasama secara bilateral.

Dengan basis seperti ini tidak heran jika perdagangan antar negara ASEAN rendah, karena mereka memang tidak ditujukan untuk berdagang satu sama lain. Begitu juga dengan tidak adanya sense of community diantara penduduk ASEAN sendiri.

Agar ASEAN tidak sekadar menjadi regulator, tetapi suatu community, ASEAN membutuhkan common value. Pertanyaan selanjutnya, common value seperti apa yang dapat mengintegraskan ASEAN sebagaimana negara-negara Uni Eropa?

Kesimpulan kedua, ASEAN terkesan asal exist. ASEAN bekerjasama degan berbagai kawasan lain tanpa mempertimbangkan masak-masak keuntungannya bagi ASEAN sendiri dan tumpang tindihnya dengan kerjasama lain sehingga yang kita lihat adalah noodle bowl syndrome dimana arus kerjasama menjadi rumit tetapi tidak menghasilkan apa-apa.



[1] Mala Rajo Sathian dkk. Malaysia and Regionalism in Southeast Asia and East Asia.

[2] Mochtar Mas’Oed. Regionalization & Regionalism: Southeast and East Asia. Paper presented in International Seminar “Regional Integration in East and Southeast Asia”, Yogyakarta, 19 Januari 2009.

[3] Chilman Arisman. Regional Integration in Southeast and East Asia.

[4] Ibid.

0 komentar:

Poskan Komentar